artikel

Jalan Menuju Majelis Ilmu Dinilai Sedekah, Ini Alasannya

Jalan menuju majelis ilmu dinilai sedekah. Benarkah?

Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir Al-Barrak berkata,

“Setiap langkah hamba menuju shalat dinilai sedekah. Hal ini disamakan pula untuk langkah seorang hamba dalam rangka mencari ridha Allah, maka dinilai sedekah.

Contohnya, langkah menuju majelis ilmu, langkah menuju jihad dan jalan kebaikan lainnya.

Sebaliknya langkah menuju maksiat dinilai suatu kejelekan.

Karenanya bersungguh-sungguhlah dalam melakukan kebaikan untuk setiap langkahmu dan waspadalah terhadap langkah menuju maksiat.

Jangan sampai langkah kakimu jauh dari masjid. Jauh dari masjid akan semakin jauh dari kebaikan.”

Demikian penjelasan yang penulis terjemahkan dari status Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir Al-Barrak dalam status channel telegram beliau hafizahullah.

Semoga kita terus semangat melangkahkan kaki dalam kebaikan.

@ Masjidil Haram Makkah, bada berbuka puasa hingga menjelang Isya, malam 9 Ramadhan 1438 H

Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal

Artikel Rumaysho.Com

Baca Selengkapnya : https://rumaysho.com/15920-jalan-menuju-majelis-ilmu-dinilai-sedekah-ini-alasannya.html

Apa itu Syafa’at?

Apa itu syafa’at? Kita harus paham akan hal ini biar tidak terjerumus pada pemahaman yang keliru.

Hari kiamat adalah kehidupan di akhirat yang satu harinya sama dengan 50.000 tahun lamanya. Di sana tidak terdapat bangunan, pohon untuk berlindung, dan tidak ada pula pakaian yang menutupi badan. Keadaan pada saat itu saling berdesakan. Allah Ta’ala mengisahkan kejadian pada saat itu,

يَوْمَئِذٍ يَتَّبِعُونَ الدَّاعِيَ لَا عِوَجَ لَهُ وَخَشَعَتِ الْأَصْوَاتُ لِلرَّحْمَنِ فَلَا تَسْمَعُ إِلَّا هَمْسًا

Pada hari itu manusia mengikuti (menuju kepada suara) penyeru dengan tidak berbelok-belok; dan merendahlah semua suara kepada Rabb Yang Maha Pemurah, maka kamu tidak mendengar kecuali bisikan saja.” (QS. Thaahaa [20] : 108)

Hari tersebut adalah hari yang sangat dahsyat. Manusia pada saat itu akan menemui kesulitan dan kesusahan yang tidak mampu untuk dihilangkan selain dengan meminta pertolongan kepada Allah Ta’ala melalui syafa’at. Akhirnya, orang-orang saat itu mendapatkan ilham untuk meminta syafa’at kepada para Nabi untuk menghilangkan kesulitan mereka saat itu.

 

Apa itu Syafa’at?

Ibnul Atsir mengatakan, “Kata syafa’at telah disebutkan berulang kali dalam hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam baik yang berkaitan dengan urusan dunia maupun akhirat. Yang dimaksud dengan syafa’at adalah meminta untuk diampuni dosa dan kesalahan di antara mereka.” [1]

Dalam Tajul ‘Urus, asy syafi’ (الشَّفِيْـعُ) adalah orang yang mengajukan syafa’at, bentuk jama’/pluralnya adalah syufa’a’ (شُفَعَاءُ) yaitu orang yang meminta untuk kepentingan orang lain agar keinginannya terpenuhi.[2]

Syaikh Sholih Al Fauzan mengatakan, “Syafa’at secara bahasa diambil dari kata (الشَفْعُ) yang merupakan lawan kata dari (الوِتْرُ). Sedangkan (الوِتْرُ) adalah ganjil atau tunggal. Kata (الشَفْعُ) berarti lebih dari satu yaitu dua, empat, atau enam. Dan (الشَفْعُ) dikenal dengan istilah bilangan ‘genap’.

Secara istilah, syafa’at adalah menjadi perantara (penghubung) dalam menyelesaikan hajat yaitu perantara antara orang yang memiliki hajat dan yang bisa menyelesaikan hajat.” [3]

Agar lebih memahami syafa’at dapat kami contohkan sebagai berikut:

Si A memiliki hajat untuk membangun rumah. Dia tidak memiliki dana yang cukup. Oleh karena itu, agar bisa mencukupi kebutuhannya dia ingin meminjam uang pada si B yang terkenal kaya di daerahnya. Namun, si A ini tidak begitu akrab dengan si B sehingga dia meminta si C untuk jadi perantara. Akhirnya, si C mengantarkan si A pada si B sehingga keperluan si A terpenuhi.

Si C yang berlaku sebagai perantara di sini disebut dengan syafi’ yaitu pemberi syafa’at.

Sedangkan syafa’at ketika hari kiamat nanti di antaranya adalah melalui syafa’at (perantara) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Umat yang sebelumnya mengalami kesulitan ketika berkumpul di padang masyhar,  akhirnya mendapat pertolongan melalui syafa’at beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Syafa’at ini adalah do’a yang beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam simpan untuk umatnya di hari kiamat nanti. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لِكُلِّ نَبِىٍّ دَعْوَةٌ يَدْعُو بِهَا ، وَأُرِيدُ أَنْ أَخْتَبِئَ دَعْوَتِى شَفَاعَةً لأُمَّتِى فِى الآخِرَةِ

Setiap Nabi memiliki do’a (mustajab) yang digunakan untuk berdo’a dengannya. Aku ingin  menyimpan do’aku tersebut sebagai syafa’at bagi umatku di akhirat nanti.” (HR. Bukhari, no. 6304)

Tunggu kelanjutan bahasan syafa’at. Semoga manfaat.

 

[1] An Nihayah fi Ghoribil Atsar, Abus Sa’adat Al Mubarok bin Muhammad, 2/1184, Barnamij Al Muhadits Al Majaniy-Maktabah Syamilah

[2] Tajul ‘Urus, Muhammad bin Muhammad bin Abdir Rozaq Al Husainiy Abul Faidh, 1/5346, Mawqi’ Al Waroq – Maktabah Syamilah

[3] At Ta’liqot Al Mukhtashoroh ‘alal Aqidah Ath Thohawiyah, hal. 95, Darul ‘Ashomah

 

@ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 19 Syawal 1437 H

Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal

Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam

Baca Selengkapnya : https://rumaysho.com/13996-apa-itu-syafaat.html

Belajar Ikhlas dari Amalan Ramadhan

Yang dimaksud ikhlas adalah memurnikan ibadah hanya untuk Allah semata.

Bulan Ramadhan sendiri adalah bulan yang di dalamnya diajarkan keikhlasan.

Lihat saja dalam amalan puasa disebutkan,

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Barangsiapa berpuasa Ramadhan atas dasar iman dan mengharap pahala dari Allah, maka dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. Bukhari, no. 38; Muslim, no. 760, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu).

Dalam amalan shalat malam atau shalat tarawih disebutkan,

مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Barangsiapa melakukan qiyam Ramadhan karena iman dan mencari pahala, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. Bukhari, no. 37; Muslim no. 759, dari Abu Hurairahradhiyallahu ‘anhu).

Yang dimaksud qiyam Ramadhan adalah shalat tarawih sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim, 6: 36.

Juga ketika seseorang menghidupkan lailatul qadar dengan shalat malam disebutkan,

مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Barangsiapa melaksanakan shalat pada malam lailatul qadar karena iman dan mengharap pahala dari Allah, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. Bukhari no. 1901, dari Abu Hurairahradhiyallahu ‘anhu).

Yang dimaksud ihtisaban dalam hadits di atas berarti beramal karena mengharap pahala dari Allah. Itulah yang dimaksud ikhlas. Yang diharap bukanlah pujian manusia. Yang diharap bukanlah semata-mata harapan dunia.

 

Bagaimana belajar untuk ikhlas dari puasa Ramadhan?

 

Pertama: Belajar tidak mengharap pujian manusia

Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah keluar menemui kami dan kami sedang mengingatkan akan (bahaya) Al-Masih Ad-Dajjal. Lantas beliau bersabda, “Maukah kukabarkan pada kalian apa yang lebih samar bagi kalian menurutku dibanding dari fitnah Al-Masih Ad-Dajjal?” “Iya”, para sahabat berujar demikian kata Abu Sa’id Al-Khudri. Beliau pun bersabda,

الشِّرْكُ الْخَفِىُّ أَنْ يَقُومَ الرَّجُلُ يُصَلِّى فَيُزَيِّنُ صَلاَتَهُ لِمَا يَرَى مِنْ نَظَرِ رَجُلٍ

Syirik khofi (syirik yang samar) di manaseseorang shalat lalu ia perbagus shalatnya agar dilihat orang lain.” (HR. Ibnu Majah, no. 4204. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini hasan).

Berbuat riya‘ (pamer amalan) benar-benar tidak akan dipedulikan oleh Allah Ta’ala. Dalam hadits disebutkan,

قَالَ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى أَنَا أَغْنَى الشُّرَكَاءِ عَنِ الشِّرْكِ مَنْ عَمِلَ عَمَلاً أَشْرَكَ فِيهِ مَعِى غَيْرِى تَرَكْتُهُ وَشِرْكَهُ

Allah Tabaroka wa Ta’ala berfirman: Aku sama sekali tidak butuh pada sekutu dalam perbuatan syirik. Barangsiapa yang menyekutukan-Ku dengan selain-Ku, maka Aku akan meninggalkannya (artinya: tidak menerima amalannya, pen) dan perbuatan syiriknya” (HR. Muslim, no. 2985).

Imam Nawawi rahimahullah menuturkan, “Amalan seseorang yang berbuat riya’ (tidak ikhlas), itu adalah amalan batil yang tidak berpahala apa-apa, bahkan ia akan mendapatkan dosa” (Syarh Shahih Muslim, 18: 115).

 

Kedua: Berusaha menyembunyikan amalan shalih

Dari Sa’ad bin Abi Waqqash radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْعَبْدَ التَّقِىَّ الْغَنِىَّ الْخَفِىَّ

Sesungguhnya Allah mencintai hamba yang bertakwa, hamba yang hatinya selalu merasa cukup dan yang suka mengasingkan diri.” (HR. Muslim, no. 2965)

Yang dimaksud dengan al-khafi dalam hadits adalah,

الْخَامِل الْمُنْقَطِع إِلَى الْعِبَادَة وَالِاشْتِغَال بِأُمُورِ نَفْسه

“Tidak terkenal (tidak masyhur), terasing untuk menyibukkan diri dalam ibadah dan mengurus dirinya sendiri.” (Syarh Shahih Muslim, 18:84)

Berarti termasuk di antara hamba yang dicintai oleh Allah adalah yang menyembunyikan amalan shalihnya.

Misalnya dalam hal sedekah diperintahkan untuk menyembunyikannya sebagaimana dalam ayat,

إِنْ تُبْدُوا الصَّدَقَاتِ فَنِعِمَّا هِيَ وَإِنْ تُخْفُوهَا وَتُؤْتُوهَا الْفُقَرَاءَ فَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَيُكَفِّرُ عَنْكُمْ مِنْ سَيِّئَاتِكُمْ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

“Jika kamu menampakkan sedekah(mu), maka itu adalah baik sekali. Dan jika kamu menyembunyikannya dan kamu berikan kepada orang-orang fakir, maka menyembunyikan itu lebih baik bagimu. Dan Allah akan menghapuskan dari kamu sebagian kesalahan-kesalahanmu; dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Baqarah: 271)

Juga Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallammengatakan mengenai tujuh orang yang akan mendapatkan naungan Allah pada hari kiamat,

وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ أَخْفَى حَتَّى لاَ تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِيْنُهُ

Ada orang yang bersedekah sembunyi-sembunyi di mana tangan kirinya tidak mengetahui apa yang disedekahkan oleh tangan kanannya.” (HR. Bukhari, no. 660 dan Muslim, no. 1031).

 

Ketiga: Beramal bukan untuk orientasi dunia

Misalnya ada yang bersedekah cuma ingin dapat balasan di dunia, tidak ingin balasan akhirat sama sekali.

Begitu pula orang yang beramal hanya mengharap dunia semata, ia benar-benar merugi. Allah Ta’alaberfirman,

مَنْ كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ الآخِرَةِ نزدْ لَهُ فِي حَرْثِهِ وَمَنْ كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ الدُّنْيَا نُؤْتِهِ مِنْهَا وَمَا لَهُ فِي الآخِرَةِ مِنْ نَصِيبٍ

Barang siapa yang menghendaki keuntungan di akhirat akan Kami tambah keuntungan itu baginya dan barang siapa yang menghendaki keuntungan di dunia Kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia dan tidak ada baginya suatu bahagianpun di akhirat.” (QS. Asy-Syuraa: 20)

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda,

تَعِسَ عَبْدُ الدِّينَارِ ، وَالدِّرْهَمِ ، وَالْقَطِيفَةِ ، وَالْخَمِيصَةِ ، إِنْ أُعْطِىَ رَضِىَ ، وَإِنْ لَمْ يُعْطَ لَمْ يَرْضَ تَعِسَ وَانْتَكَسَ

Celakalah hamba dinar, dirham, qathifah dan khamishah. Jika diberi, dia pun ridha. Namun jika tidak diberi, dia tidak ridha, dia akan celaka, dan akan kembali binasa.” (HR. Bukhari, no. 2886).  Qathifahdan khamishahadalah sejenis pakaian yang mewah.

Kenapa dinamakan hamba dinar, dirham, dan pakaian yang mewah? Karena mereka yang disebutkan dalam hadits tersebut beramal untuk menggapai harta-harta tadi, bukan untuk mengharap wajah Allah. Demikianlah sehingga mereka disebut hamba dinar, dirham dan seterusnya. Adapun orang yang beramal karena ingin mengharap wajah Allah semata, mereka itulah yang disebut hamba Allah (sejati).

Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah.

Artikel Buletin Jumat Rumaysho #22

Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal

Artikel Rumaysho.Com

Baca Selengkapnya : https://rumaysho.com/17533-belajar-ikhlas-dari-amalan-ramadhan.html

Laporan Kegiatan 1.000 Paket Ramadhan untuk Dhuafa

Alhamdulillah sumbangan para donatur telah disalurkan untuk 800 KK dhuafa di Pulau Kijang Inhil… sumbangan ini digabungkan juga dengan sumber sosial lainnya dari binaan Ustadz Ali Ahmad

Semoga tahun depan bisa kita laksanakan lagi..
Jazakumullahu Khoiron

DATA PENERIMA BANTUAN

KUPAS RINGKAS RUKUN IMAN

Pengertian Iman

Secara bahasa masyhurnya iman berarti التصديق , namun Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan makna iman secara bahasa adalah الإقرار .

Berkata Ibn Utsaimin iman secara bahasa menurut kebanyakan orang adalah التصديق maka, صَدَّقْتُ dan آمَنْتُ maknanya sama, dan perkataan ini tidak benar. Karena iman dari segi bahasa artinya الإقرار بالشيء عن تصديق به (syarah akidah wasitiyah 1/45)

Adapun secara syar’i iman adalah keyakinan dengan hati, ucapan dan tulisan dan amalan dengan anggota badan, bertambah dengan ketaatan, berkurang dengan maksiat.

 

Rukun Iman

  1. Beriman Kepada Allah
  2. Beriman Kepada Malaikat
  3. Beriman Kepada Kitab Allah
  4. Beriman Kepada Rasul
  5. Beriman Kepada Hari Akhir
  6. Beriman Kepada Takdir Baik dan Buruk

Beriman kepada Allah

Beriman kepada Allah mencakup 4 hal :

  1. Mengimani Wujud Allah
  2. Mengimani Rububiyah Allah
  3. Mengimani Uluhiyah Allah
  4. Mengimani Nama-Nama dan Sifat-Sifat Allah

Beriman kepada Malaikat

Malaikat adalah alam ghoib, mereka dicipta oleh Allah dari cahaya, dan mereka adalah hamba-hamba Allah, tidak memiliki sifat-sifat rububiyah dan tidak berhak mendapatkan ibadah, dan tidak pernah mendurhakai Allah, mengerjakan apa yang diperintah, jumlah mereka sangat banyak dan tidak mengetahuinya kecuali Allah.

Mengimani malaikat mencakup 4 perkara :

  1. Mengimani adanya mereka
  2. Mengimani yang kita ketahui namanya dan yang tidak diketahui secara global
  3. Mengimani yang kita ketahui sifat-sifatnya dari mereka melalui alquran dan sunnah
  4. Mengimani yang kita ketahui tugasnya menurut Alquran dan sunnah

 

Beriman kepada Kitab-Kitab Allah

Yang dimaksud dengan kitab-kitab Allah adalah kitab-kitab samawi yang telah diturunkan oleh Allah kepada para Rasulnya, sebagai petunjuk untuk manusia, sebagai rahmat untuk meraih kebahagiaan hidup didunia dan akhirat.

Mengimani kitab mencakup 4 perkara :

  1. Mengimani bahwasanya ia benar-benar diturunkan dari Allah
  2. Mengimani apa yang kita ketahui namanya seperti Alquran, Taurat, Injil dan Zabur. Adapun yang tidak kita ketahui, maka kita mengimaninya secara global
  3. Membenarkan berita-beritanya seperti berita dari alquran dan berita-berita yang tidak di tahrif pada kitab-kitab terdahulu
  4. Mengamalkan hukum-hukum yang tidak dinasakh pada kitab-kitab tersebut

 

Beriman kepada Rasul

Rasul adalah manusia pilihan Allah yang diutus untuk menyampaikan syariat Allah.

Mengimani para Rasul mencakup 4 perkara:

  1. Mengimani benarnya status mereka sebagai Rasul dari Allah
  2. Mengimani yang kita ketahui nama-nama mereka
  3. Mempercayai berita-berita yang shohih tentang mereka
  4. Mengamalkan syariat Rasul Allah yang diutus kepada kita yaitu Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wasallam

 

Beriman kepada Hari Akhir

Berkata Syaikh Utsaimin, hari akhir adalah hari kiamat dimana dibangkitkannya manusia untuk di hisab dan di beri balasan, dinamakan hari akhir karena tidak ada lagi hari setelahnya. Ketika kekalnya penduduk surga didalam surga dan penduduk neraka didalam neraka.

Mengimani hari akhir mencakup 3 perkara :

  1. Mengimani kebangkitan
  2. Mengimani penghisaban dan pembalasan
  3. Mengimani surga dan neraka

 

Beriman kepada Takdir Baik dan Buruk

Yang dimaksud dengan takdir adalah ketetapan Allah terhadap segala sesuatu yang terjadi sesuai dengan ilmunya yang azali dan hikmahnya.

Iman kepada takdir mencakup 4 perkara :

  1. Mengimani ilmu Allah
  2. Mengimani penulisan takdir
  3. Mengimani masyiah
  4. Mengimani penciptaan Allah terhadap semua kejadian